Bhinneka Tunggal Asa - Film Dokumenter
Indonesia kerap disebut sebagai rumah bagi keberagaman. Lebih dari 270 juta jiwa hidup dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda. Secara konstitusi, kebebasan beragama dan berkeyakinan dijamin. Namun dalam praktiknya, tidak semua warga merasakan jaminan itu secara setara.
Film ini merekam pengalaman para penghayat kepercayaan Malesung di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, yang masih menghadapi stigma, persekusi, hingga serangan terhadap ruang ibadah mereka. Kesaksian Selvi Tombugu dan Iswan Sual menunjukkan bagaimana label “sesat” masih menjadi alasan pembenaran kekerasan dan diskriminasi.
Situasi serupa juga dialami kelompok lain di berbagai wilayah. Jemaat Ahmadiyah di Sukabumi masih beribadah di bangunan yang pernah dibakar. Jemaat gereja di Bandung menghadapi penolakan izin selama puluhan tahun. Penghayat kepercayaan di Jawa Barat juga berhadapan dengan pembatasan akses terhadap ruang ritual mereka.
Menurut catatan lembaga bantuan hukum di berbagai daerah, pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan masih terus terjadi, dalam bentuk pelarangan ibadah, perusakan rumah ibadah, hingga intimidasi. Dalam banyak kasus, negara dinilai belum sepenuhnya hadir melindungi kelompok minoritas.
Di tengah narasi toleransi yang terus digaungkan, kenyataan di lapangan memperlihatkan hal yang berbeda. Film ini mengajak kita melihat kembali sejauh mana kebebasan beragama benar-benar dijalankan, dan siapa yang masih tertinggal di dalamnya.
"Bhinneka Tunggal Asa" adalah sebuah plesetan atau modifikasi dari semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu). Istilah ini sering digunakan sebagai judul kampanye, karya sastra, atau film dokumenter untuk menyoroti keragaman keyakinan sekaligus perjuangan kelompok minoritas dan penghayat kepercayaan di Indonesia. (YouTube·Watchdoc Documentary)- Film Dokumenter YLBHI & Watchdoc: Menyoroti potret nyata dan tantangan kebebasan beragama, hak sipil, serta perjuangan kelompok minoritas yang sering terpinggirkan di berbagai wilayah Indonesia.
- Makna Kata "Asa": Secara filosofis, kata "asa" sering diartikan sebagai harapan atau cita-cita. Ini merepresentasikan harapan akan keadilan, ruang aman, dan kesetaraan dalam keberagaman.
- Kritik Sosial: Digunakan sebagai pengingat bahwa di balik indahnya semboyan persatuan, terdapat "asa" (harapan) yang belum sepenuhnya terealisasi bagi seluruh warga, khususnya terkait toleransi hak berkeyakinan.